Jatuh Cinta

Rasanya jatuh cinta itu menyenangkan, menenangkan, menyegarkan.

Continue reading “Jatuh Cinta”

Advertisements

Khayalan Babu

Akhir2 ini aku jadi memiliki khayalan babu yang entah bisa direalisasikan atau tidak. Sejak aku dan kii sepakat untuk hidup di jogja setelah selesai sekolah, kami mulai mencari2 tanah luas di jogja.. yaa, minimal 1000 meter persegi lah, kalau kata abang. Memang, rasanya terlalu luas dan terlalu mustahil untuk sepasang pengantin yang baru beberapa bulan menikah, ditambah lagi kami bukan datang dari keluarga yang kaya raya. Tapi aku selalu percaya, khayalan babu pasti ada caranya sendiri untuk menjadi realita.

Continue reading “Khayalan Babu”

Menikah

Baru saja aku membaca sebuah tulisan mengenai pernikahan muda dan bagaimana akun2 sosmed justru mengajak para perempuan untuk segera menikah. Di dalam tulisan itu pula, aku membaca bahwa target menikah hanyalah untuk menghalalkan segala aktivitas fisik dibandingkan untuk membangun rumah tangga yang sehat. Si penulis menyatakan (dan apa yang kulihat pula), jadi banyak perempuan yang menjadi galau hanya karena belum menikah atau karena status single mereka. Penulis mengajak mereka untuk tidak usah terburu2 dalam menikah, dan aku setuju dengannya.

Aku termasuk orang yang menikah di usia muda jika dibandingkan dengan mereka yang berada di lingkungan sekitarku yang merupakan anak2 yang lahir dan tumbuh besar di kota besar. Tidak, aku menikah bukan karena tekanan ataupun tuntutan sosial (karena bisa dibilang aku yang pertama menikah di antara lingkar pertemananku). Aku menikah karena instingku mengatakan kalau menikah dengan suamiku ini adalah pilihan yang tepat — dan memang begitu adanya.

Memang, jika kalian melihatku dari luar, secara pendidikan aku merupakan lulusan SMA. Akupun sekarang masih mengenyam pendidikan untuk mengambil ijazah diploma. Pekerjaanku juga tidak tetap sehingga aku gak memiliki income yang stabil. Orang2 yang melihatku akan dengan sangat mudah menilaiku bodoh karena terjun ke dunia pernikahan secepat ini. Tapi, aku merasa akan ada cahaya dibalik tindakan nekatku ini.. sama seperti tindakan nekatku yang lain yang menuntunku ke kehidupanku saat ini.

Kenekatanku juga sebenarnya didukung keluarga.. terutama ibu. Ibuku pernah bilang, kalau rejekiku baru akan lancar setelah aku menikah. Beliau tidak mengatakan itu berdasarkan logika (seperti yang biasa beliau lakukan), hanya berdasarkan insting maternal.

Ya, aku selalu percaya dengan insting ibuku karena beliau adalah belahan jiwa pertamaku sebelum suamiku. Dan berdasarkan data statistik pribadiku, insting beliau sebagai ibu sungguhlah tajam dan akurat. Jadi, bodoh saja jika aku meragukan instingnya. Hal ini lah yang juga membuatku nekat menikah dengannya, karena aku merasa ini waktu dan pilihan yang tepat.

Nah, berdasarkan pengalaman pribadiku, aku gak mau menuntut para perempuan di sekitarku untuk terburu2 menikah.. apalagi ketika insting kalian tidak terasah. Aku juga tidak menuntut kalian untuk menggalaukan status romansa kalian yang kemudian kalian jadikan alat untuk mengasihani diri sendiri. Sebagai seseorang yang sudah menikah, aku hanya akan mengatakan satu hal: nikmatilah kehidupan kalian sekarang dengan membekali diri dengan apapun yang kalian rasa perlu di kehidupan rumah tangga.

Membangun rumah tangga tidaklah mudah, apalagi ketika kalian berencana memiliki 5 orang anak di kemudian hari. Jika kalian bukan risk-taker, nekat bukanlah jawaban yang tepat untuk memulai pernikahan kalian. Banyak persiapan yang harus kalian lakukan; finansial, pendidikan, dll.

Setiap orang memulai dari tahap yang berbeda2. Ada yang memulai dari nol sepertiku, ada yang memulai ketika sudah stabil secara finansial, dan ada pula yang memulai dari titik minus. Gak ada yang lebih enak dari yang lainnya, karena pada akhirnya kalian harus berkolaborasi dengan pasangan kalian. Which means, kalian harus melakukan banyak penyesuaian dan itu tergantung dari seberapa cepat kalian beradaptasi dengan lingkungan baru. Ada yang harus kembali terjun ke titik nol sebelum stabil, ada yang harus mengalami kehancuran sebelum bertemu keharmonisan.. macam2.

Dari segala hal itu, ada satu yang harus kalian perhatikan: jika kalian hanya galau karena belum ada yang menghalalkan, lebih baik kalian kembali masuk ke kandang. Kenapa? Karena artinya kalian masih egois, masih kekanak2an, masih memikirkan diri sendiri. Kalau kalian memikirkan pasangan hidup dan keturunan kalian, harusnya kalian galau karena banyak hal yang belum diperbaiki dari diri kalian, bukannya karena belum ada yang melamar.

Terkadang, di sinilah kesalahan lingkungan dalam membesarkan seorang perempuan: value perempuan hanya dilihat dari seberapa banyak orang yang meliriknya dibandingkan seberapa matangnya mereka dari berbagai aspek. Sehingga, gak heran jika banyak perempuan yang galau karena belum dipinang instead of galau karena belum matang dalam aspek2 tertentu. Like.. let’s face it.. siapa yang mau melirik bocah manja yang gak bisa apa2? Pedofil, maybe?

Kemanjaan kalian juga berbenturan dengan angan2 yang kalian miliki; ingin punya pria cerdas dan dewasa, tapi kalian bodoh dan kekanak2an.

Well, here’s the thing: gak ada manusia cerdas yang mau bersanding dengan manusia bodoh. Orang bodoh itu membosankan, hanya menarik ketika muda dan ranum. Once you’re old and grey? Your partner will start to look for younger and fresh ones. Gak percaya? Silakan baca kasus2 perselingkuhan. Gak semua perselingkuhan terjadi karena nafsu, ada yang terjadi karena kebutuhan batinnya tak terpenuhi.

Aku gak bisa ngomong apa2 lagi sih karena apa yang mau kukatakan sudah diwakilkan oleh penulis muda tadi. Tapi, ada satu hal yang akan kusampaikan kepada pembacaku: great women will create a great man, suckish women will create a cheater. Jangan rubah partner kalian menjadi orang jahat.

-fin-

 

Ps: if your partner still do bad stuff after you do good stuff to them, then maybe your partner needs a simple bitch-slap on his dick.. with a fork.

Dua Anak Tuhan

Langit jakarta abu-abu
Penuh dengan debu
Langit melbourne biru
Cerah seperti wajahmu

Enam jam dan tiga puluh menit
Jarak tempuh yang harus dilalui
Rasa rindu ini semakin menggigit
Terpisah seperti menelan duri

Waktu berjalan sesukanya
Mau lambat atau cepat
Waktu tak kenal rasa-rasa
Kejam dan dingin yang lekat

Senyum itu tergambar di layar
Tanpa beban, penuh kasih sayang
Senyum itu pun sedikit pudar
Karena sesak hati yang menyerang

Aku dan kamu sama-sama tak tahan
Terpisah benua dan lautan
Tapi kita satu di bawah sayap tuhan
Sumpah kita lebih kuat dari terpaan

Masculinity Yang Fragile Seperti Pantat Bayi Dugong

Jadi tadi aku lagi nge-scroll di timeline fb punya abang, lalu aku menemukan gambar ini di antara tumpukan posting. Tulisan di postingan ini (entah siapapun yang membuatnya) membuatku jijik karena memang demikianlah kenyataannya di dunia manusia2 basic nan menyedihkan:

17759667_1894407180827164_2788827189806979335_n
Credit to Fragile Lil Bitch

Continue reading “Masculinity Yang Fragile Seperti Pantat Bayi Dugong”