Pregnancy

Beberapa hari yang lalu, lebih tepatnya beberapa hari menjelang fase menstruasi tubuh, aku dan kii sengaja berhubungan tanpa pengaman. Alasannya simpel, lebih enak kalau gak pakai kondom dan kami tau kalau aku sudah lewat masa subur. Dalam bahasa lain, aku gak akan hamil kalau sudah menjelang fase menstruasi seperti itu, jadi, gak ada beban dan gak ada pikiran aneh2 saat kami melakukannya.

Kami sempat melakukannya beberapa kali, mumpung bisa, karena saat menstruasi, artinya seminggu full tanpa hubungan badan dan itu menyiksa kii (dan juga aku). Sebelum tanggal 9 juli pun (sebelum resepsi pernikahan), kami melakukannya dan hari2 kami setelahnya berjalan seperti biasa. Sampai akhirnya pada suatu malam, setelah kami kembali ke rumah (kami sempat menginap 2 malam di hotel sebelum dan sesudah resepsi), kii tiba2 saja menatapku dengan tatapan yang lebih dalam dari biasanya. Saat itu juga, dia mengajakku kembali berhubungan.. you can say that we were making love instead of having sex. He said that he loves me so much and he wants to start to have kids. Aku sempat panik sedikit, lalu membiarkannya karena aku tau hal itu tidak akan terjadi setelah melewati masa subur.

Kami melakukannya malam itu dan malam pun dipenuhi aura2 lovey dovey ala pengantin baru (meski kami sudah menikah 6 bulan yang lalu).

Di malam berikutnya, kami ngobrol di ruang tengah bersama papa, membahas hal2 yang biasa kami bahas dengan papa: tentang sekolah dan rencana jangka pendek. Tiba2, mama menghampiri kami dan menatapku dengan penuh tanya. Beliau bertanya padaku, “Kamu hamil?” Mendengar hal itu, jelas saja aku syok, apalagi setelahnya mama menjelaskan, “Iya, ada teman mama yang tanya kalau kamu hamil atau enggak. Kamu udah cek? Soalnya kadang orang bisa punya feeling yang kuat ketika seseorang sedang hamil.”

Aku sempat bilang (ngeles, lebih tepatnya), “Mungkin karena aku gendut.. jadi disangka hamil.”

“Gemuknya orang hamil sama gemuk biasa beda loh. Udah, cek dulu sana, jangan sampai kamu ngerokok pas lagi hamil.” kata mama.

Aku panik.

Bagaimana tidak, semalam kii bilang dia pingin punya anak, lalu malam berikutnya mama bertanya kalau aku hamil atau enggak. Lalu mereka mengungkit2 masalah firasat dan semacamnya. Aku memang gak punya firasat apa2, tapi kalau sudah begitu, aku jadi ikutan panik karena kehamilanku di luar rencana. Aku sempat menatap kii dengan pandangan khawatir dan dia gak membantu sama sekali; dia justru senyum lebar seolah2 dia merencanakan ini semua.

Jujur, aku sempat sebal karena aku merasa punya anak gak semudah itu. Terlebih lagi, aku yang akan mengandung, bukan orang lain. Aku sempat sebal karena orang2 seolah menggampangkan urusan hamil dan semacamnya, seperti kehamilan yang direncanakan adalah bullshit. Mungkin memang benar, untuk sebagian orang. Tapi, untukku yang sedang sekolah dan sedang ingin menuntaskan studi, hal ini akan menyulitkanku. Aku gak kebayang bagaimana aku harus ke kampus dalam keadaan hamil dan segala kondisi kehamilan lainnya. Aku gak kebayang bagaimana aku harus mengimbangi segalanya: konseling, kelas, dan menjaga kehamilan. Aku juga belum terbayang bagaimana kami harus mengatur keuangan untuk 3 tahun ke depan. Aku benci ketika hanya aku saja yang khawatir dan orang2 malah tersenyum lebar seolah masalah kehamilan di luar rencana adalah hal yang sepele.

Biar aku tekankan, terutama bagi lelaki di luar sana yang kerjaannya hanya bisa menanam benih:

Kami tau kalian ingin punya anak, tapi tolong otaknya dipakai karena istri kalian juga manusia yang perlu hidup di dalam rencana agar semuanya terkontrol. Memiliki anak bukan seperti memelihara kucing, terlebih lagi ketika bukan kalian yang harus mengandung anak2 kalian.. jadi, TOLONG HARGAI RENCANA ISTRI KALIAN. Memang, rasanya punya anak itu menyenangkan, tapi ada juga risiko yang harus ditangani, terlebih ketika hamil. Kalian pikir, enak mengganggu studi orang dengan benih tanaman kalian? Memangnya, kalian yang akan mengalami morning sickness dan mood swing ketika hamil? Memangnya, hamil itu gampang?

Aku memang ada pikiran untuk segera punya anak, tapi aku harus tetap menahan karena aku gak mau rencanaku hancur karena keinginan dadakanku. Toh, kalau memang sudah rejeki (sudah berusaha pakai kondom, tapi masih jadi juga) aku masih bisa menerimanya. Tapi, jika kalian dengan sengaja menanam apalagi sampai menyepelekan apa yang akan dihadapi oleh istri kalian, jangan harap hidup kalian tenang.

Orang2 lainpun juga tolong lah otaknya jangan dijadikan pajangan saja. Iya, mungkin kalian senang akan mendapat anggota keluarga baru, atau teman kecil baru.. it’s cute, WHEN YOU REALLY PLAN THIS KIND OF SHIT IN THE FIRST PLACE. Orang kadang gak ngerti stress macam apa yang aku alami saat mendengar rentetan kalimat “hamil ya? hamil ya? hamil ya?” yang terdengar seperti orang stroke. It’s not your fucking womb.. it’s mine.. and I am in charge to decide WHEN to put a baby in it. Stop being a retard and stop being a fucking asshole.

Stop living in your moronic fantasy and stop living up to your moronic desire. Your fucking wife is the one who decide when to have a baby and when she wants to focus on other things. If you cant respect that, then plant your own fucking womb and have a baby on your own. I’m out.

Yeah, I am mad because I see no one can respect my worries and my fear. No one can understand because you guys are morons.

Stupid-ass bitch.

PS: I’m not pregnant. I’m here to state what I’ve been meaning to say to your face but couldn’t because you’re too stupid to understand.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s