2:31 AM.S

Pukul 2:31 pagi, ia terbangun saat menyadari ketidakberadaanku di sampingnya. Saat itu, tepatnya 3 menit yang lalu, aku sedang berada di lantai, sedang bermain laptop karena tidak bisa tidur. Ia terlonjak, seperti orang yang terbangun dari mimpi buruk, mencariku dan sempat terpaku saat melihat diriku yang dengan santainya duduk di lantai.

Aku segera beranjak dan membaringkan kembali tubuhnya yang masih lelah, “Kamu mencariku?” tanyaku saat itu.

“Iya.. aku kaget kamu gak ada di sampingku”

Aku hanya bisa terdiam sembari menatapnya yang perlahan kembali terlelap. Ada berjuta pikiran yang terlintas di dalam pikiranku saat itu. Aku tidak bisa mengingat apa saja yang terlintas karena semua hanya melesat sepersekian detik, tapi yang pasti, aku sempat terkejut ketika ia langsung terlonjak saat menyadari tak ada diriku di sampingnya.

Jujur, sesaat sebelum tidur ini bukanlah kondisi terbaikku. Entah mengapa, ada banyak hal2 buruk melintas di kepala sebelumnya. Aku juga sudah mencoba mengalihkan perhatianku dengan mengecek email dan melihat kinerja perkuliahanku di web kampus. Tapi, karena pada dasarnya tidak ada yang baru, pikiranku kembali membusuk sampai akhirnya ia terbangun.

Aku, yang pada dasarnya mudah dibuat terenyeuh, dengan mudahnya terbawa perasaan ketika ia menatapku dengan matanya yang masih digelayuti kantuk. Bisa kulihat ketakutan di dalam matanya sesaat sebelum menyadari keberadaanku, bisa kurasakan kekhawatirannya sesaat sebelum ia melihat diriku. Aku, entah kenapa, merasa berharga dan spesial — ya, hanya karena satu gestur simpel seperti itu saja.

Aku bisa merasakan bahwa ia menginginkanku berada di sampingnya, bahkan ketika terlelap. Aku juga bisa melihat bahwa ketidakhadiranku mengundang rasa takut pada dirinya — entah itu rasa takut akan kesendirian atau rasa takut atas kehilangan diriku — sehingga membuatnya terlonjak kaget.

Sungguh, aku belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.

Aku memang tidak tau apa yang terlintas di dalam pikirannya saat itu — aku hanya bisa menerka2 dengan merefleksikannya terhadap diriku sendiri. Aku, pun, akan melakukan hal yang sama ketika terbangun dan tak menemukan dirinya di sampingku. Aku, pun, akan merasa takut dan kehilangan jika aku tidak bisa menemukannya di manapun.

Iya, perlu kuakui, aku pun ingin melihat dirinya ketika bangun seperti aku ingin melihatnya sebelum menutup mata untuk tidur. Aku, mungkin, akan terlonjak lebih heboh jika tidak menemukan dirinya di sisiku, sehingga, aku mengerti apa yang dia rasakan dan aku bisa membayangkan apa yang ia pikirkan di dalam waktu yang amat singkat itu.

Memang, dia bukan tipe yang akan terus menerus menghujaniku dengan kata2 manis atau belaian kasih sayang berbentuk lisan. Aku hanya bisa merasakannya dan menerka2 hal apa yang terlintas di dalam kepalanya. Aku hanya bisa menatap matanya dalam2 sambil mencoba membaca isi pikirannya saat menatapku; dan aku hanya bisa merasakan dan menerima kasih sayang yang ia berikan dalam bentuk sikap.

Dia, manusia yang mencintaiku dengan sangat amat dan aku selalu percaya itu. Suamiku adalah orang yang paling pertama yang akan mencariku ketika aku tidak ada — dan aku sangat yakin akan hal itu. Bahkan, di dalam kondisi tak bisa berpikir, refleks dirinya adalah mencari keberadaanku. Aku tersentuh melihatnya.

Aku tak bisa berkata apa2.

Untuk suamiku yang sedang membaca tulisan ini:

Terima kasih. Aku juga sangat amat menyayangimu. Di dalam waktu yang amat singkat itu, kamu bisa membuatku merasa disayang, diinginkan, dan dibutuhkan. Sungguh, itu adalah hal yang luar biasa dan suatu nikmat yang tak bisa didapatkan dengan mudah. Kamu benar2 manusia kesayanganku dan juga manusia yang amat mencintaiku meski aku hina dan penuh cela.

Aku tau kamu merasa bahwa dirimu tidak sempurna, tapi, percayalah, kamu adalah manusia yang paling sempurna di mataku. Ketidaksempurnaanmu membuatmu begitu sempurna dan segala hal yang kamu anggap cela adalah poin yang membuatku percaya bahwa kamu adalah manusia.

Aku menyayangimu dan mencintaimu. Ketahuilah, aku menerima segala kelebihan dan kekuranganmu. Heck! Aku bangga dengan apa yang kamu punya. Aku mencintaimu apa adanya dan aku ingin kamu juga melakukan hal yang sama terhadap dirimu sendiri — aku ingin kamu menerima segala kekuranganmu dan bangga terhadap dirimu sendiri. Aku ingin kamu tau dan sadar bahwa kekuranganmu membuatmu menjadi manusia dan aku menyukai itu. Aku tidak menuntutmu untuk menghilangkan kekuranganmu, aku hanya ingin kamu tumbuh dan berkembang.. bersamaku. Aku ingin kamu menyayangi dirimu sendiri dan berusaha menjadi yang terbaik sebagaimana aku berusaha menjadi yang terbaik untuk dirimu dan diriku sendiri.

Aku mencintaimu, Achmad Maulana Sirojjudin. Kamu adalah hal terindah yang pernah datang ke dalam hidupku — dan tak akan ada yang bisa menggeser posisi itu.

Selamat tidur, sayangku. Mimpi indah, yaa, bayi besarku. :3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s